Tuban menyimpan sejuta rindu bagi yang pernah singgah. Ada ikatan emosional tersendiri dari setiap tempat, kuliner maupun kebudayaannya. Tak jarang di kota tua ini membuat jatuh cinta. Meski nampak sederhana, Tuban tetaplah kota istimewa. Kombinasi ke-islaman, kebudayaan leluhur, serta jiwa nasionalis yang bergelora.

Menjelang Hari Jadi Tuban ke-727, perlu rasanya refleksi. Bagaimana para pendahulu memperjuangkan tanah ini. Kita hanya menikmati manisnya buah tanpa tahu menanamnya sendiri. 

Sebagai generasi penerus yang nantinya membawa perubahan untuk Tuban, perlu rasanya kita lebih mengenal Tuban lebih mendalam.  Salah satunya cikal bakal peletak pondasi kota ini, yaitu R.A Dandang Watjana atau lebih dikenal Ki Ageng Papringan.

Hari ini akan menjadi perjalanan menantang sekaligus menyenangkan. Kami Tim Beritabaru.co Tuban bersepakat akan mengupas jejak nenek moyang kota Tuban. Kota yang terkenal dengan situs makam wali, minuman sari siwalan atau legen dan aneka ciri khas lainnya. Sejuta rahasia yang hari ini belum banyak diketahui khalayak umum.

Matahari mulai bergerak di atas kepala. Kami bergegas menuju Dusun Banaran Desa perunggahan Kulon kecamatan Semanding. Terdapat makam tokoh yang dulu membubak alas papringan. Yang di kemudian hari di kenal menjadi kota Tuban. 

Berita Terkait :  Presiden Jokowi Luncurkan Gerakan Nasional Wakaf Uang

Dandang Watjana tokoh yang dikenal sebagai penguasa atau  pemimpin kota Tuban pertama kali, yang dulunya belum menjadi kadipaten. Selepas adanya kerajaan Majapahit. Cucu dari Ki Ageng Prapringan yakni Ranggalawe ditugaskan menjadi bupati. Konon dulu wilayah Tuban hingga ke Semarang. 

Dandang Watjana salah satu keturunan Prabu Banjaransari, raja di Negeri Pajajaran yang saat ini wilayah di Jawa Barat. Salah satu  putranya Raden Harya Metahun. Berkah dari perkawinannya, R. Harya Metahun dikaruniai  putra bernama Harya Randukuning yang kelak menduduki daerah Kalak Wilis Jenu yang diberi nama Kadipaten Lumajang Tengah. Bergelar Kyai Ageng (Kyai Gede Lebe Lontang).

Kyai Gede Lebe Lontang berhasil menjalankan pemerintahan di Lumajang Tengah selama ±20 tahun. Kabupaten Lumajang Tengah itu, sekarang menjadi dusun yang bernama Banjar, Kecamatan Jenu.

Kyai Gede Lebe Lontang dikarunia seorang putra bernama Raden Arya Bangah. Sesudah ayahandanya mangkat, Arya Bangah menolak untuk naik tahta menggantikan ayahnya sebagai adipati di Lumajang Tengah. Ia memilih berkelana bersama pengikutnya ke arah selatan.

Sesampai di kaki pegunungan kapur Rengel, Arya Bangah  dan para pengikutnya bahu-membahu membuka hutan untuk dijadikan perkampungan. tempat baru itu diberinya nama Kabupaten Gumenggeng. Bekas Kadipaten Gumenggeng tersebut sekarang menjadi Pedukuhan Gumeng, Desa Banjaragung, Kecamatan Rengel.

Berita Terkait :  Dirintis Sejak Kelas 5 SD, Kini Fasta Bakery Raup Omzet Rp50 juta perbulan

Raden Arya Bangah mempunyai seorang putra bernama Raden Arya Dhandhang Miring. Raden Arya Dhandhang Miring senang menjalankan tapa brata. Ketika melaksanakan tapa brata itulah Raden Arya Dhandhang Miring mendapatkan ilham yaitu setelah ayahnya mangkat, Raden Arya Dhandang Miring tidak boleh melanjutkan pemerintahan ayahandanya di Gumenggeng karena cita-citanya yang mulia dan luhur tidak akan terlaksana. Raden Arya Dhandang Miring harus membuka areal hutan sendiri yang terletak di arah barat laut Gumenggeng. Segala cita-citanya baru berhasil jika putranya kelak membuka hutan bernama Papringan.

Raden Arya Dhandhang Miring dikaruniai seorang putra R.A Dandang Watjana. Yang kelak membuka tanah yang masih berupa hutan bambu yang bernama Papringan,  tanpa diduga–duga sebelumnya. Muncullah sebuah keajaiban  dengan keluarnya air yang dalam istilah  jawa disebut  (meTu) dan (Banyune),dan jika dirangkai menjadi Tuban.

“Ketika bubak alas papringan, semua orang termasuk Dandang Watjana yang memimpin pembubaan itu merasa haus, lalu di cabutlah salah satu pohon bambu dan akhirnya keluarlah air. Dan itulah menjadi awal kata Tuban. Metu banyune,” tutur Herman susanto Ketua Pengurus pemangku Makam  R.A Dandang Watjana.

Berita Terkait :  Kiai Said Luncurkan Buku Allah dan Alam Semesta

Herman menceritakan, makam R.A Dandang Watjana aslinya di kali (Sungai), Yang sekarang itu dibuat patokan makam atau tanda makam. Kali tersebut bernama kali gunting. Bentuk kali yang menyerupai gunting. Karena sering terjadi peluasan kali dan dampak dari air besar ketika musim hujan, sehingga dulunya makam yang disamping kali mengalami amblas, sehingga harus di pindahkan di tempat yang sekarang dilihat bersama-sama. 

“Alas Papringan dulunya seberapa luas, Pak?” telisik kami lebih dalam.

“Sangat luas, Mas. Mulai daerah Beti yang dulunya ada pemandian widodaren sampai pantai utara. Namun pusat pemerintahan di Perunggahan Kulon,” pungkas Herman. 

R.A Dandang Watjana memimpin Tuban tahun 1264-1282. Sepeningalnya R.A Dandang Watjana digantikan oleh Ranggalawe. Kala itu Tuban belum menjadi sebuah kabupaten, Sejarah pemerintahan Kabupaten Tuban diawali pada jaman Majapahit, tepatnya ketika peristiwa agung pelantikan Ranggalawe  untuk menjadi adipati Tuban pertama oleh  Raja Majapahit, Raden Wijaya. Ranggalawe yang tak lain cucunya sendiri dari Nyi Ageng Lanangjaya.

Peristiwa pelantikan itu dilaksanakan pada tanggal  12 Nopember 1293, yang pada akhirnya oleh Pemerintah Kabupaten Tuban tanggal 12 Nopember dijadikan sebagai Hari Jadi Tuban.

Oleh: Tim Redaksi Tuban.beritabaru.co

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini