Berita Baru, Tuban – Hari Ibu yang jatuh tanggal 22 Desember tahun ini, di mata Khoirukum mimmuaini terasa berbeda. Sebab adanya pandemi Covid-19 yang membatasi segala aktivis, serta hadirnya pemerintah untuk mendorong sosok perempuan untuk memiliki andil besar dalam tata kelola masyarakat, menjadi modal besar untuk meneguhkan eksistensi perempuan bukan hanya bualan.

Perempuan kelahiran 27 Februari 1999 tersebut, sangat mengapresiasi hadirnya Peraturan Presiden nomor 59 tahun 2017 sebagai dasar modal pembangunan nasional tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Nasional Berkelanjutan atau SDGs (Sustainable Development Goals).

Sebab hal itu menghadirkan peluang bagi para perempuan untuk mengeksplor diri lebih lagi, menurutnya, ditambah hadirnya Permendes Nomor 13 tahun 2020 menegaskan bahwa Dana Desa (DD) tahun anggaran 2021 diprioritaskan untuk pencapaian SDGs Desa yang mengukur seluruh aspek pembangunan, sehingga mampu mewujudkan perkembangan manusia seutuhnya. Tujuannya, meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Berita Terkait :  Tim BHR Kemenag Tuban Melihat Hilal 1 Dzulhijjah, Hari Raya Idul Adha 31 Juli 2020

“Di Permendes itu, ada satu perwujudan program SDGs yaitu Keterlibatan Perempuan Desa,” tegasnya.

Aini sapaan akrabnya di kalangan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesis (PMII) Kabupaten Tuban menuturkan, jika impelentasi dari Program SDGs Keterlibatan Perempuan Desa nantinya akan memperkuat pembangunan desa ramah perempuan dan anak.

“Kita harus sadar betul, jika perempuan memiliki keterlibatan yang bisa berkontribusi lebih di desa, apalagi di era sekarang, perempuan yang berangkat dari desa mampu membuktikan dirinya di masyarakat dengan skill dan integritas diri,” jelasnya.

Perempuan yang baru menginjak 21 tahun ini, memberikan gambaran jika perempuan dalam konteks hari ini harus mengutamakan kompetensi diri, apalagi yang masih berproses dalam ruang lingkup dunia pendidikan dan organisasi pergerakan.

Berita Terkait :  Caketum Rois, Optimis Dukung Peningkatan Daya Saing UMKM

Menghadapi persaingan global ditambah tantangan digital, Aini mengangap semua itu harus dipersiapkan dengan keilmuan serta pemetaan potensi diri yang matang.

“Personal Assessment bagi mahasiswa apalagi perempuan harus menitik beratkan pada impact kepada masyarakat desa,” tuturnya.

Ia merasa, banyak Pekerjaan Rumah (PR) bagi mahasiswa perempuan untuk menegaskan diri sebagai simbol pemimpin masa depan baik di tingkatan Desa sampai Pemerintah Pusat harus memiliki modal lebih.

“Keterbukaan yang ada di Indonesia, baik pendidikan, hak bersuara, maupun yang lain. Harus kita tangkap peluang itu. Salah satunya dengan mengikuti organisasi sebagai wadah yang mengasah diri,” jelasnya.

Di akhir, perempuan yang memiliki hobi membaca dan berdiskusi ini mengajak untuk para generasi muda khususnya perempuan untuk tak lelah selalu berpogres dalam keilmuan.

Berita Terkait :  Yayasan Al Hikmah Binangun, Gelar Upacara Hari Santri Nasional

“Sudah saatnya perempuan desa harus mandiri, kalau bukan kita siapa lagi? Kalau bukan sekarang kapan lagi? Jadi di hari ibu tahun ini, menjadi bahan refleksi kita sebagai kaum perempuan yang nantinya menentukan arah bangsa, harus benar-benar konkrit melakukan perubahan,” tegasnya. (*)

Iklan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini