Berita

 Network

 Partner

Masyarakat Adat
Direktur PtPPMA Naomi Marasian saat menjadi pemateri seri 4 diskusi daring pengelolaan produk inovatif dengan tajuk Olahan Kakao di Lembah Grime yang menjadi bagian dari Program PAPeDA, Senin (23/8).

Masyarakat Adat Kembalikan Kejayaan Kakao di Lembah Grime

Berita Baru, Jakarta – Meski pernah terpuruk selama bertahun-tahun, namun kini masyarakat adat di Lembah Grime tak putus asa untuk kembali meraih kejayaan ekonomi pada masa lampau melalui peningkatan dan revitalisasi tanaman kakao.

Hal itu disampaikan oleh Direktur Perkumpulan Terbatas untuk Pengkajian dan Pemberdayaan Masyarakat Adat (PtPPMA), Naomi Marasian selaku pemateri serial diskusi Festival Torang Pu Para Para Seri IV bertajuk Olahan Kakao di Lembah Grime yang menjadi bagian dari Program PAPeDA, Senin (23/8).

“Lembah Grime punya sejarah terkait kejayaan ekonomi, dan kami bersama masyarakat ingin bersama untuk menggapai kejayaan itu dengan memanfaatkan potensi-potensi yang ada,” katanya.

Naomi bersama PtPPMA sejak 2018 mengajak masyarakat untuk mau kembali memproduksi kakao di Kampung Imsar. Mereka juga berusaha untuk meningkatkan kualitas dan meningkatkan produksi kakao.

Berita Terkait :  Tolak Omnibus Law, Serikat Buruh Sepakat Mogok Nasional

“Membangun kembali masyarakat adat sebenarnya kita harus kembali kepada akarnya, kepada sejarahnya, kepada potensi dirinya, sebagai dasar kita menata kembali ke masa depan. Dan mereka bukan hanya sebagai pengelola, tapi juga pemilik,” terangnya.

Selama mendampingi, Naomi mengatakan kini ada sekitar 115 keluarga di Kampung Imsar yang kembali mau bertani kakao yang awalnya di tahun 2018 hanya ada 24 untuk melakukan revitalisasi tanaman Kakao.

“Seperti kita tahu, hama itu menimbulkan trauma. Sehingga, kami juga ingin membangun kembali kepercayaan masyarakat, bahwa bersama-sama kita bisa kembalikan kejayaan yang dulu,” imbuhnya.

Naomi bersama dengan PtPPMA dalam prosesnya telah melakukan banyak hal selama mendampingi masyarakat khususnya yang di POKJA, mulai dari pembersihan terhadap kebun, lalu melakukan pemangkasan, dan pembersihan hama dengan bahan-bahan organik dengan memanfaatkan tanaman-tanaman lokal, dan juga kegiatan-kegiatan lain untuk memperbaiki kualitas dan umur produksi dari kakao.

Berita Terkait :  Pertamina Kembangkan Ekosistem Industri Baterai di Indonesia

“Selain itu, kami juga mau melihat kepada industri. Selama ini petani kakao masih menjual sendiri hasil panennya, padahal harganya tidak stabil. Jadi kami juga mencoba menjamin soal kepastian pasar. Kami juga melakukan pendampingan untuk memahamkan mereka terkait alur, dari proses menanam, perawatan, ada buah, buah diolah jadi apa, dan itu akan menjadi kebanggan masyarakat untuk bisa mengelola,” ujarnya.

Diakui oleh Naomi, kakao merupakan komoditas unggulan masyarakat tidak hanya karena sejarahnya, melainkan juga hasil olahannya.

“Kakao di Lembah Grime ini jenisnya, lebih besar dari coklat biasa. Selain itu, banyak hasil produk olahan yang bisa dihasilkan dari kakao ini. Kita juga sudah mengajak kolaborasi dengan kampung-kampung lain agar bisa membuat produk olahan yang baru, inovasi baru. Jadi tidak hanya coklat batangan, permen atau yang lain-lain,” pungkas Naomi.

Berita Terkait :  Wakil Ketua MPR: Kepada Aktivis, Polisis Harus Bersikap Humanis

Perlu diketahui, gelaran serial diskusi Festival Torang Pu Para Para ini menjadi bagian dari Program PAPeDA yang diselenggarakan oleh Perkumpulan untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) dan didukung oleh The Asia Foundation (TAF).