“Refleksi Buku Jejak Emas Fathul Huda Sang Pemimpin Tuban Bumi Wali Spirit Of Harmony”
PART 1

Imam Sarozi

Penulis Buku Suluk Rindu

Nahdlatul ulama (NU) di Kabupaten Tuban mengalami proses panjang. Dari awal berdirinya NU di Indonesia tahun 1926, hingga terbentuknya cabang NU di Kabupaten Tuban memiliki proses yang tak mudah.

Tahun 1935 NU cabang Jenu berdiri, berkat sejumlah santri alumni Pesantren Tebuireng di Kecamatan Jenu. KH Khusen sebagai Rais Syuriyah berduet dengan Kiai Umar Farouq sebagai Ketua Tanfidziyah.

Tekanan politik kolonial serta masih teguhnya para kyai memegang prinsip bahwa dakwah Islam tidak harus melalui organisasi, cukup melalui dakwah dan pengajian. Membuat NU harus berjuang lebih gigih agar bisa mendirikan cabang di kota Tuban.

Barulah tahun 1945 KH Wahid Hasyim menemui Bupati Tuban R.T. Soediman Hadiatmodjo saat itu, memintanya untuk mengizinkan membuka cabang NU di kota Tuban. Dan semenjak itu secara aktif menyebar ke seluruh plosok Tuban.

NU bukan hanya organisasi kemasyarakatan keagamaan biasa, namun NU mempunyai tanggungjawab besar terhadap masyarakat untuk mewujudkan civil society, yang artinya peranan NU sebagai organisasi kemasyarakatan yang turut serta membentuk masyarakat beradab dalam membangun, menjalani, dan memaknai kehidupannya.

Kepemimpinan Kader NU di Kabupaten Tuban

Salah satu pemimpin Tuban hari ini, KH Fathul Huda merupakan salah satu kader NU yang berangkat dari bawah hingga puncak tertinggi di Kabupaten Tuban bukanlah perkara sederhana. Tidak bisa hanya diasumsikan dengan peranan politik praktis saja, namun lebih dari itu. Tugas moral serta pengawalan kader NU sendiri memiliki peranan penting di sana.

Berita Terkait :  KPH Tuban, Pastikan Jalan Penghubung Dusun Koro dan Pongpongan Kawasan Hutan

Lahirnya buku “Jejak Emas Fathul Huda Sang Pemimpin Tuban Bumi Wali Spirit Of Harmony” menjadi bahan refleksi bersama tentang sosok kader NU mengawal pemimpin berasal dari kader NU juga. Mempertegas pertanggungjawaban kader NU dari sisi keintelektualan yang selama ini dikonotasikan bermodal ‘serampangan’ ‘ngawur’ atau asal-asalan.

Dari hulu ke hilir, dari proses pencalonan hingga dua masa periode, keikut sertaan kader NU mengawali kepemimpinan Bupati Fathul Huda menjadi sangat penting. Menjadi penegasan atas keseriusaan NU dan kader NU dalam membangun Civil Society di Kabupaten Tuban.

Torehan emas atau penghargaan itu hanya hadiah dari kerja keras serta kerjasama yang komunikatif. Membangun sinergitas yang tak tebang pilih, serta menakar peluang jangka panjang dalam membangun investasi perdaban di Bumi Wali untuk masa depan, dalam kontek sumber daya manusia (SDM) yang berkompeten.

Hal itu lah menjadi sorotan terbitnya buku tersebut. bentuk konkrit kader NU memberikan uswah yang baik. Yang artinya pengawalan berbentuk kritik dan saran sebanding dengan apresiasi yang diberikan. Sehingga memberikontribusi secara optimal. Hal itu memberikan gambaran dalam beberapa sisi;

Pertama, sisi transparansi kinerja Kader NU yang menjadi pemimpin. Secara tidak langsung memberikan laporan pertanggungjawaban ke publik atas apa yang dilakukan kader NU serta capaian apa yang telah diberikan untuk masyarakat Tuban.

Berita Terkait :  Kapolres Tuban Bersama Ketua Bawaslu Tinjau Gudang Logistik KPU, Pastikan Kesiapan Pilkada Tuban

Kedua, sisi kredibilitas NU pencetak kader pemimpin yang kompeten.

Ketiga, sisi trust publik terhadap figur kader NU. Kepercayaan publik atau masyarakat menjadi tolak ukur penting akan kepuasaan kinerja kader NU.

Memperjelas jejak kepemimpinan kader NU yang dilakukan Bupati Fathul Huda, memberikan semacam sitimulus kedalam NU sendiri. Yang nota bene sebagai rumah besarnya.

Refleksi semua itu, seharusnya mampu memberikan suplementasi kepada kader NU yang lain untuk meningkatkan kualitas personal. Bukan hanya legimetasi saja, namun secara konkrit dengan tindakan.

Pertanggungjawaban Moril, Intelektual, dan Ukhrowi

Hubungan alamiah sebagai manusia harus saling memberikan timbal balik. Yang artinya tidak berat di satu sisi. Contoh saja, ketika orang lain itu benar, kita berkewajiban mengapresiasi. Jika orang lain bertindak kurang tepat, kita diharap memberikan nasihat dan saran.

Hal itulah seharusnya menjadi cerminan kader NU, dengan adanya salah satu kadernya menjadi pemimpin. Sebagai bentuk pertanggungjawaban ikatan emosional personal sesama kader maupun ikatan jam’iyyah sesama terbentuk maupun terdidik dari satu wadah.

Pertanggungjaawaban moril sebab terikatan emosional sesama kader NU yang selama ini mengawal kader NU menjadi pemimpin. Bukan hanya mengantar kepuncak saja, namun mengawal hingga tuntas masa pengabdian untuk tanah kelahiran. Keseriusan itu terindikasi kan dengan totalitas berada dalam sisi netralitas. Yang artinya jika kader NU yang menjadi pemimpin melakukan tindakan tidak mencerminkan kepentingan masyarakat, maka berani memberikan kritik saran yang di butuhkan.

Berita Terkait :  Gagal Maju, Agus Maimun Kini Dukung Dadi di Pilkada Tuban 2020

Pertanggungjawaban intekletual kaitannya dengan ini, kader NU bisa memberikan kontribusi di berbagai bidang. Salah satunya dicontohkan Ahmad Atho’illah, dengan menulis berbasis data tentang dua periode kepemimpinan kader NU (Bupati Fathul Huda, red) tersebut. Capaian serta prestasinya selama memimpin Tuban. Sejalan dengan profesinya sebagai penulis. Yang artinya sesuai dengan kadar keilmuan serta kapasitas kader NU masing-masing.

Pertanggungjawaban ukhrowi yang berarti laporan kinerja kader NU selama ini kepada publik yang dalam hal ini adalah masyarakat itu sendiri. Sehingga masyarakat mengerti atas apa yang telah dilakukannya selama ini.

Literasi Sebagai Media Komunikasi Lintas Generasi

Membangun jiwa literasi kaum milenial hari ini, salah satu fungsinya sebagai dokumentasi atas proses kader NU dan peranan dalam mewujudkan Civil Society di Kabupaten Tuban.

Berkaca dari sejarah, banyak hal yang tidak diketahui sebab data literatur atas fakta sejarah sangatlah minim. Entah sebab dihilangkan atau memang tidak terpublikasikan. Yang pasti tugas besar hari ini yaitu mentransformasikan peristiwa hari ini bisa dinikmati serta dikaji generasi, sebagai bahan pijakan maupun contoh.

Literasi menjadi media yang akan terus abadi serta relevan, jika nantinya generasi di masa depan membutuhkan referensi akan sosok maupun peranannya.

Berangkat dari itulah, seharusnnya setiap generasi mampu mempublikasikan setiap sosok pemimpin maupun kadernya yang berkontribusi. Bukan tanpa alasan hal itu dilakukan, sebab hari ini berbicara fakta harus memiliki data. (*)

Facebook Comments Box
Iklan

Tinggalkan Balasan