“Refleksi Buku Jejak Emas Fathul Huda Sang Pemimpin Tuban Bumi Wali Spirit Of Harmony”

PART 2

Imam Sarozi

Penulis Buku Suluk Rindu

Mahasiswa satu fase proses pembelajaran yang bisa dikatakan adalah keterbukaannya seluruh pemikiran dan gagasan yang ada. Menjadi seorang aktivis di kampus merupakan pilihan yang jarang diambil, sebab kadang harus menerima tanggung jawab besar.

Tak jarang juga mendapat sudut pandang negatif dari kalangan luar aktivis. Itu wajar, karena setiap pilihan harus siap menerima konsekuensinya. Barang tentu itu suatu tantangan tersendiri untuk suatu proses, yang kadang dimaknai sebagai keasyikan.


Aktivis teridentikan dengan kritik terhadap kebijakan pemerintah, orasi, gerakan jalanan mengunakan toa, maupun swaping gedung-gedung pemerintahan.


Hal ini sangatlah lumrah, jika stigma mahasiswa non aktivis ataupun masyarakat beranggapan, jika aktivis hanya seorang pengkritik ulung, pencari kesalahan kampus atau pemerintah, bahkan tak banyak yang memberi gelar aktivis itu ‘pemain sinetron’, yang artinya berperan untuk mendapatkan uang atau panggung saja.


Jalan aktivis itulah yang dulu hingga kini diambil Ahmad Atho’illah. Diceritakan dalam buku pertamanya yang berjudul “Diskusi aksi lalu minum kopi”, dinamika seorang aktivis dari tataran komisariat hingga cabang, penuh dengan intrik dan trik. Benturan, hantaman, serta terjangan beragam datang. Mengasahnya menjadi sosok yang sekarang.


Memulai karirnya dengan menjadi seorang jurnalis itu bukanlah hal mudah. Bukan hanya soal tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga saja. Namun gelar aktivis yang melekat dalam dirinya menuntut tetap menjaga kewarasan intelektual serta kritis terhadap kondisi sosial maupun problematika krusial.

Berita Terkait :  Sisi Lain Dibalik Chanif Muayyad Ketua PC PMII Tuban, Memilih Menjadi Petani Melon Semenjak Kuliah


Jurnalis Mempertahankan Kewarasan Intelektual


Semenjak menjadi aktivis, budaya membaca, diskusi serta improvisasi dalam nalar kritis sosial sudah menjadi rutinitas yang melekat sekali. Dalam hal itu, literasi menjadi pintu gerbang untuk menyambung segala gagasan serta ide-ide yang didapatkan.
Ketika seseorang memutuskan menjadi aktivis sekaligus jurnalis, semacam ada koneksi luar biasa. Sebab dua hal itu satu kesatuan, yang saling memberikan energi lebih.


“Jurnalis harus tetap berintelektual. Membaca, diskusi, serta bersosial harus menjadi agenda rutinan yang tidak bisa dipisahkan, itu didapatkan jika jiwa aktivis masih tertanam,” ucap Atho’ pada suatu diskusi.


Hal itu banyak tertuang dengan jelas dalam bukunya yang pertama, sekaligus menjadi bukti konkrit jika seorang jurnalis tak hanya bisa menulis sebuah berita. Namun disertai gagasan dan wawasan keintelektualan yang nyata.

Kondisi hari ini, banyak yang melupakan ruh dari tulisan. Bagaimana prisma pemikiran terbentuk dari rutinitas yang menjaga akal tetap dalam kondisi sadar. Sebagai mana banyak contoh para pendahulu yang merubah konstruksi pemikiran dengan tulisan. Merubah tatanan yang tidak sesuai dengan normal bernegara dengan tulisan. Menyuarakan gagasan dan pemikiran demi terciptanya kondisi kesejahteraan dan keadilan yang utuh.

Berita Terkait :  Terkait UU Cipta Kerja, PBNU: Tidak Ada Dialog Menampung Aspirasi


Ada beberapa faktor yang membuat para jurnalis ‘tidak waras’ dalam tanda kutip demikian. Salah satunya, budaya membaca sudah hilang dianggap tidak penting. Ini yang menonjol sebenarnya, kadang target pekerjaan ataupun intensitas aktivitas terlalu padat sehingga jarang meluangkan waktunya untuk menambah nutrisi pemikiran. Perlu adanya penanaman dalam mindset, dengan membaca maka cakrawala keluasan pemikiran, gagasan, wawasan akan terbuka.


Budaya Literasi Mahasiswa NU dan Kompleksitas Berorganisasi


Status mahasiswa bisa jadi adalah salah satu karunia yang tidak semua orang merasakan, entah berbagai sebab yang menghalangi atau memang belum adanya suatu kesempatan. Yang jelas status mahasiswa bukanlah barang murahan yang mudah diperjual belikan.


Budaya literasi dalam kalangan Mahasiswa bukan hal baru tentunya, apalagi sebagai sosok mahasiswa yang juga kader NU. Semestinya ada nuansa lebih yang mampu ditawarkan, secara dalam ruang lingkup NU sendiri, menawarkan beragam kajian bisa memantik diskursus pemikiran.


Dalam konteks mahasiswa NU akan terfokus, seluruh kader NU yang tengah maupun telah usai berproses dalam ruang lingkup perguruan tinggi. Dan hal mengarah dengan adanya sejumlah organisasi ekstra kampus yang ada di perguruan tinggi.


Budaya literasi akan membentuk pribadi yang jelas-jelas matang, baik secara pemikiran serta prilaku. Sebabnya tolak ukurnya yaitu wawasan dan keilmuan. Bukan tanpa sebab penulis mengatakan itu, dalam konteks hari ini, nampak jelas hasil itu di lapangan. Semasa berproses di dalam organisasi kemahasiswaan mengalami dinamika keintelektualan hasil dari budaya literasi yang mengakar, akan menghasilkan buah kemapanan pemikiran setelah menjadi alumni. Semua proses tidak akan menghinati hasil, sebagaimana menanam buah maka itulah hasilnya.

Berita Terkait :  Punya Peran Penting, Gus Menteri Ingin Pendamping Desa Tingkatkan Kapasitas


Mengapa hari ini banyak mengeluhkan, banyak mahasiswa NU ketika berproses mengalami kemunduran keintelektualan. Mungkin akan banyak spekulasi yang bisa digambarkan disini. Namun terpenting dari itu, yaitu tentang proses kesadaran tentang posisi jati diri harus benar-benar di utamakan. Sebab tangung jawab besarnya bukan hanya tentang pertanggungjawaban menjadi mahasiswa, namun sebagai kader NU yang kelak menjadi penerus perjuangan misi besar.


Lebih dari itu, banyak juga yang mendiskusikan sebab dan mengapa, banyak ditemukan banyak mahasiswa NU yang telah menjadi alumni atau lulus dari perguruan tinggi, baik menjadi pejabat, guru, atau yang lainnya. Mengalami semacam kekosongan pemikiran.


Mungkin bisa diambil garis besar dari itu adalah cara berproses atau kurang maksimalnya ketika menyelami diskusi-diskusi pemikiran, kajian keintelektualan, ataupun kurang menancapnya budaya literasi dalam pola kehidupan.Jadi semua itu akan kembali kepada diri sendiri, mau terus terkukung dalam ketidak leluasan berfikir, atau nyaman dengan kondisi kebodohan yang sudah menjadi rutinitas. (*)

Facebook Comments Box
Iklan

Tinggalkan Balasan