Berita

 Network

 Partner

Kang Arief, Dari Pemain Film hingga Kades Berprestasi

Kang Arief, Dari Pemain Film hingga Kades Berprestasi

Berita Baru, Tuban – Film pendek berjudul Bantuan Langsung Tjinta (BLT) beberapa hari lalu, telah resmi dirilis melalui akun youtube Menteri Desa, Abdul Halim Iskandar. Film BLT yang bercerita tentang program pemerintah yang disajikan dengan aroma mesra kisah cinta.

Salah satu pemeran utama dalam film tersebut, merupakan Kepala Desa Socorejo Kecamatan Jenu, Zubas Arief Rahman Hakim. Kades dengan segudang prestasi yang tak diragukan ketangkasannya dalam mengelola potensi desa.

“Seneng sekali bisa menjadi bagian dari Film tersebut, Dengan niatan ingin memperkenalkan potensi desa Socorejo sebagai desa percontohan, tertib administrasi, desa wisata,” tutur Kang Arief sapaan akrbanya.

Kades yang murah senyum tersebut, menuturkan 70 % para pemain Film tersebut dari jajaran pemerintah Desa Socorejo, baik Sekdes, Karang Taruna, dan anggota desa yang lain.

Berita Terkait :  Label Beras BPNT Kecamatan Plumpang Sudah Sesuai Standart

“Itu (Bermain film, red) pengalaman pertama bagi kami, jadi memang terkesan Natural. Sisi original yang ditonjolkan,” ucapnya.

Film yang telah diputar serentak pada 29 Oktober 2020 dan ditonton sekitar 35.000 pendamping desa tersebut, Mendapat sorotan beragam dari sejumlah media. Namun Kang Arief sangat menyayangkan, karena tidak ada keberimbangan berita yang disampaikan.

“Tidak bermaksud apa-apa, namun tolonglah jangan hanya demi kepentingan view, jadi yang diexspos hanya tampang doang,” tegasnya.

Kang Arief menjelaskan, seharusnya ada keberimbangan pemberitaan yang disajikan masyarakat terkait semua pemeran yang terlibat. Jadi terkesan tidak hanya satu orang saja yang berandil besar.

“Jika hanya pecintraan salah satu pemeran saja, itu tidak adil namanya. Ini kerja bersama,” tegasnya.

Berita Terkait :  Hindari Penyebarann Covid-19: Lima Puskesmas di Tuban Lockdown

Sekadar diketahui, Desa Socorejo tengah gencar-gencarnya melakukan trobosan inovasi dengan Pantai Semilir. Mulai dengan perbaikan sarana prasarana, hingga memunculkan kuliner-kuliner dengan nuasa melankolis exsotis.

“Fokus kami, kerja dan berkarya untuk desa. Memajukan desa dengan gotong royong, tanpa banyak jual pencitraan bermodal tampang,” tutupnya. (Mam/Dur)