Adipati Tuban Tahun 1817

Berita Baru, Tuban – Peringatan hari ulang tahun ke-727 Kabupaten Tuban bagi Beritabaru.co Biro Tuban merasa ada hal yang berbeda. Kurang lebih selama tiga bulan kami mempersiapkan kado terindah untuk Bumi Wali (sebutan lain Tuban), justru banyak menemukan hal membuat pertanyaan besar dibenak kami.

Salah satunya, saat kami menjumpai yang katanya ‘makam salah satu pemimpin Tuban’. Bentuk makam yang tak layak untuk seorang yang pernah berkontribusi membangun kota Seribu Goa Ini, jika benar itu adalah salah satu adipati tuban.

Dibatu nisan yang berada tepat persis depan Mihrab Lama Masjid Agung Tuban, terdapat sebuah makam dengan nisan terbuat dari marmer hitam berukuran 40 cm x 40 cm, bertuliskan ‘Pepenget Petilasan Eyang Pangeran Djono Mangunkusumo TH 1793-1882 Jumeneng Bupati Tuban TH. 1817’. Berkat informasi salah satu pegawai Kompleks Makam Sunan Bonang.

Barangkat dari informasi awal itulah, kami mencoba menggali lebih dalam tentang sosok siapa dibalik makam tersebut?. Dari mendatangi museum Kambang Putih Tuban, beberapa literatur yang membahas Tuban, hingga kami meminta salah satu teman yang memiliki akses diberbagai perpustakaan besar seperti Perpustakaan Nasional, Perpustakaan Laiden di Belanda. Masih tetap tak membuahkan hasil apapun. Bahkan nama yang ada dinisan, tidak ada didata situs akun resmi Pemerintah Tuban tubankab.go.id tidak menyantumkan siapa saja yang pernah menjabat menjadi bupati.

Berita Terkait :  Bupati Tuban Menerima Vaksin Dikediamannya Setelah Wabup

Entah karena minimnya jaringan informasi atau kurangnya literasi yang didapatkan. Hingga berita ini ditulis, tak ada informasi satupun yang masuk. Kami mencoba mengkonfirmasi kepada Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olaraga (Disparbudpora) Tuban dengan menggunakan pesan singkat sejak Rabu (11/11) malam pukul 20.34 WIB, terkait kebenaran makam tersebut. Namun tak ada respon.

Hari Ulang tahun Tuban ke-727 kami ingin mensyukuri kebenaran jika Tuban salah kota tua yang pernah berkontribusi besar baik masa kerajaan hingga kemerdekaan Indonesia. Namun semua itu berbanding terbalik dengan realitas makam tersebut. Terlepas benar atau tidaknya makam itu adalah Adipati Tuban, kita perlu mengetahui sejarah konkrit siapapun yang pernah membangun kota kelahiran ini.

Ini tugas bersama, bukannya tugas bupati yang sekarang ataupun terdahulu. Namun kesadaran untuk tahu jatidiri daerah, tetaplah berangkat dari sejarah itu sendiri. Disadari atau tidak, itu kenyataan pahit yang kita sadari bersama.

Lebih banyak mana generasi muda membaca sejarah daerahnya sendiri dibandingkan membaca status ataupun gosip selebritis. entah ini kesalahan siapa, namun ini tetaplah tanggung jawab bersama.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini