Imam Sarozi
Penulis buku Suluk Rindu

Layaknya dunia peperangan untuk menaklukkan suatu kekuasaan. Mengharuskan banyak pembodohan, rekayasa, pembantaian karakter, dan pelumpuhan citra. Kontestasi politik tak ubahnya medan peperangan ego gelap pribadi bukan atas nama rakyat dan segala kepentingan kesejahteraan. Mal-mal suram tempat konsolidasi berdiri di setiap ruang kopi hingga bahu jalanan pedesaan. Menyuguhkan taruhan serta tawar menawar kepentingan. Lantas apa yang di perjuangkan jika demokrasi tanpa mampu berdiri tegak atas nama kemakmuran? Terus bagaimana suara demokrasi yang di ambil dari rakyat bisa bermakna, jika ruang kontestasi saja sudah syarat rekayasa.

Mengutip pendapat Robert Dahl “bahwa demokratisasi pada tingkat nasional hanya mungkin terbangun jika demokrasi juga berlangsung pada tingkat lokal” (Fitriyah 2005: 297). Menyambut pilkada Tuban yang akan dilaksanakan bulan Desember tahun ini, sudah cukup terasa asmotfer simbol opini publik. Baik melalui ruang media sosial hingga ruang rasan-rasan masyarakat awam. Publik menjadi lapangan bola luas. Tempat bergulirnya pencitraan dan permainan opini dimainkan. Bola liar menjadi incaran dari setiap kaki para binatang penjilat.

Berita Terkait :  Desa di Mata Kontestan Pilkada Tuban 2020

Peperangan politik sudah lama terjadi dengan tendensi demokrasi. Namun tak sejalan dengan representasi. Kibul mengibuli sudah hal lazim terjadi. Suara rakyat hanya santapan liar untuk unjuk gigi menancapkan taring kepentingan lebih dalam. Desas-desus petahana menyalonkan putra mahkota sudah menjadi rahasia umum. Entah sebagai branding kelanggengan kekuasaan ataukah mencetak generasi emas dalam clan golongan. Semua mata yang menyoroti memiliki opini yang bergulir deras. Sampai dimana ujungnya belum bisa terteka.

Kubu petahana diuntungkan dengan dukungan beberapa jaringan dan mesin politiknya yang cukup solid, kandidat petahana ini mempunyai image position sebagai pejabat yang popular di mata publik. Apalagi jika proses tersebut ditopang dengan kinerja figur yang positif tentunya akan semakin memperkuat korelasi antara pemilihan dan calon kandidat dalam hal memperoleh kemenangan (Firmanzah 2010: 229). Tetapi jika petahana tidak bertarung sendiri hanya memainkan pion catur apakah pihak petahana diuntungkan dengan itu. Sedangkan pion tak memiliki image position dan kinerja teruji kapabilitasnya.

Opini publik cenderung kritis dalam berbagai kondisi dan sudut pandang. Hal itu syarat penjabaran kondisi di lingkungan sekitar. Dalam dua masa periode kepemimpinan masih belum terasa menjawab segala problematika masyarakat, justru menampilkan problem baru yang menambah beban masyarakat.

Berita Terkait :  Menelaah Kehancuran Negara atas Keserakahan Penguasa

Sedangkan hari ini rival yang santer terdengar adalah putra mahkota ratu yang dulu berkuasa. Komposisi pertarungan Pilkada Desember depan, akan terasa dua mata pedang dari dua empu yang sudah pernah merasakan kursi 01 Tuban. Entah dinamika konsolidasi yang seperti apa bermain, namun bukan itu yang mendapat sorotan publik. Justru kedua empu dibalik dua wayang yang memainkan putra mahkotanya sebagai pion.

NU, Organisasi Pendukung Solusi atau Bunuh Diri?

Identitas pemimpin daerah Tuban di golongan dari kaca mata masyarakat awam adalah representasi kepemimpinan NU sendiri. Yang artinya pemimpin Tuban sekaligus simbol kemimpinan NU sendiri. Jika kepimpinan Tuban mendapat pandangan bagus itu sekaligus mewakili penilaian terhadap NU. Tidak menutupi kepemimpinan jika timbul kekecewaan atau ketidakpuasaan terhadap kepemimpinan Tuban hari ini akan berdampak kepercayaan terhadap NU.

Rekomendasi partai PKB hari ini masih mengambang menjadi bahan opini publik yang entah disengaja disiapkan “black box campions” atau bisa juga bentuk kedelemaan pimpinan partai atas kebuntuan konsolidasi koalisi yang ada, tentang figur yang mendapat dukungan penuh. Kenapa harus penuh? Dititik ini perlu pemahaman lebih jika selama ini respon terhadap kader masih tawar menawar komposisi komplit dari rekonstruksi politik yang akan dibawa selama masa jabatan nanti.

Berita Terkait :  Menelaah Kehancuran Negara atas Keserakahan Penguasa

Mengenai bursa figur didalam ruang “lingkaran hijau” masih tarik ulur opini serta syarat sekali dengan keambiguan informasi yang selama ini dipaparkan dalam publik. Entah figur yang diusung masih belum bisa memenuhi kebutuhan partai atau tendensi rekomendasi sesepuh para empu belum juga turun. Kemungkinan itu membuat publik bertanya, peranan para sesepuh empu di dalam tubuh NU Tuban sejauh mana menimbang, menyaring, serta mengkader figur yang pas diajukan dalam kontestasi Pilkada Tuban nantinya. (*)

Sumber foto; law.justice.com

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini