Berita

 Network

 Partner

Covid-19 Mencekik Harga Telur, Peternak Ayam Petelur Rela Gadaikan BPKB

Covid-19 Mencekik Harga Telur, Peternak Ayam Petelur Rela Gadaikan BPKB

Berita Baru, Tuban – Memang benar, roda kehidupan selalu berputar. Apalagi dengan kondisi cuaca, serta bencana alam maupun non alam sering menghantui, membuat setiap pelaku usaha, harus sigap mengambil langkah tepat dalam setiap situasinya. Ada yang bertahan, tak banyak juga yang harus tumbang.

Pandemik Covid-19 yang masih terus berlangsung, membutuhkan kerja keras dan usaha yang gigih untuk bisa mempertahankan usahanya, itu yang dirasakan Hendro Pranoto salah satu peternak ayam petelur di Desa Tobo, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban ini.

Bersama kelompoknya yang berjumlah 10 orang, masuk dalam program binaan Semen Gresik Indonesia, harus bergeliat memutar otak untuk bisa meraih pundi rupiah. Pasalnya produksi jatuh di angka 8 sampai 9 kg per hari. Yang bisanya dikondisi normal bisa sampai 13 kg per hari. Akibat diterjang Covid-19 yang melumpuhkan harga pasar dan konsumen pasar.

Berita Terkait :  BNN: Selama Pandemi, Tren Peredaran Narkoba Meningkat

Kondisi pasar yang terdampak pandemik, diperparah dengan cuaca yang tak menentu. Membuatnya harus mengandaikan Buku Kepemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB) ke salah satu bank di Tuban, sebesar Rp15 juta dibelanjakan bahan kebutuhan ternak, seperti pakan dan obat-obatan.

“Biaya selama sebulan untuk perawatan ayam petelur yang berjumlah 300 ekor itu, menghabiskan biaya hingga jutaan rupiah, jadi mau ngak mau harus gadaikan BPKB motor ke bank,” Pranoto.

Hendro Pranoto mengakui dalam sebulan saja, mampu menghabiskan pakan sebanyak 19 karung. Satu karungnya saja seharga Rp330 ribu.

“Karena kita peternak ayam dalam sekala kecil, maka beli pakannya juga ke pengecer dan ini ongkosnya juga tambah mahal. Sebenarnya kita bisa saja mendatang pakan ternak langsung dari pabriknya, tapi lagi-lagi terkendala masalah biaya,” ungkapnya.

Berita Terkait :  Tiga Desa di Kabupaten Tuban Deklarasi Sehat Mata

Biaya produksi selangit tak seimbang dengan keuntunggan yang didapatkan. Harga naik turun secara dratis membuat usahanya semakin tak menentu. Satu kilo harga jual telur Rp16 ribu sedangkan normal harga kisaran Rp20 ribu sampai Rp23 ribu.

“Terus terang kami selaku peternak yang kecil, apalagi dari program pemberdayaan, kami sangat kesusahan, apalagi kemarin harga telur di jatuh di 16.000, terus harga pakan yang cenderung naik, kami tak berdaya dengan kondisi itu,” tegasnya.

Kendali lain juga dihadapinya, yaitu pemasaran mengalami kemacetan. Yang semula telur bisa habis di kandang, namun kini tak bisa.

“Awal Covid-19 menurun sangat drastis, ditambah tak ada bantuan yang datang untuk kami juga,” ungkapnya.

Berita Terkait :  KPK Tahan Eks Pejabat Kemenag Tersangka Pengadaan Barang dan Jasa

Terkait dengan keluhan tersebut, pihaknya berharap pemerintah juga turun serta membantu kesulitan yang dihadapi. Baik berupa bantuan permodalan, ataupun yang lain.

Disinggung Harapan kedepannya, Hendro menuturkan, jika program pemberdayaan CSR tetap ada dan berlangsung. Mendapatkan perhatian serta dana untuk mengaver permodalan jika terjadi kondisi yang seperti pandemi.

“Pemerintah hadir bersama kami, sebagai pelaku usaha yang belum bisa mendiri,” tutup Hendro. (Mam/Dur)